Jejak 666 Tahun Islam di Tanah Papua

Sep 15 2026

MUI Papua | Papua– Peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua pada 8 Agustus 2026 tidak berhenti pada upaya mengenang sejarah.

Momentum yang berpusat pada jejak awal Islam di Fakfak itu diarahkan menjadi pijakan memperkuat dakwah, kaderisasi, pendidikan, persatuan, dan pembangunan peradaban Islam yang berakar pada budaya masyarakat Papua.

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat, Syamsul Inay, menegaskan, angka 666 tahun harus dimaknai lebih jauh daripada sekadar perjalanan waktu.

“666 tahun bukanlah sekadar angka, melainkan berapa banyak peradaban luhur yang diwariskan, tata cara hidup yang santun, ukhuwah yang mengikat suku dan bangsa, sistem perdagangan yang jujur, hingga tata kelola masyarakat yang berlandaskan keadilan,” tegas Syamsul Inay dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, Minggu (9/8/2026).

Di tengah beragam versi sejarah mengenai kedatangan Islam di Bumi Cenderawasih, peringatan tersebut menjadi ruang untuk merawat warisan para pendahulu sekaligus menjawab tantangan masa depan.

Muhammadiyah di Papua Barat melihat penguatan sumber daya manusia dan lembaga pendidikan sebagai bagian penting untuk memastikan nilai-nilai Islam terus tumbuh secara harmonis bersama masyarakat lokal.

Bukan Sekadar Sejarah

Jejak Islam di Papua, khususnya Fakfak, memiliki kekayaan perspektif historis. Selain berbagai catatan mengenai kedatangan Islam, terdapat pula pandangan adat dan legenda rakyat asli yang meyakini bahwa Islam telah hadir sejak Pulau Papua diciptakan.

Keragaman perspektif tersebut menunjukkan bahwa sejarah Islam di Papua tidak semata-mata berbicara tentang kapan agama ini pertama kali tiba.

Lebih penting, sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana nilai Islam kemudian berinteraksi dengan adat, kehidupan sosial, perdagangan, serta kebudayaan masyarakat setempat.

Karena itu, peringatan 666 tahun memiliki arti strategis ketika ditempatkan sebagai titik temu antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa depan.

Tantangannya bukan hanya mempertahankan ingatan sejarah, tetapi memastikan nilai yang diwariskan tetap relevan bagi generasi muda Papua.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua PWM Papua Barat, Mulyadi Djaya, mengingatkan agar momentum tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.

“Saya mengajak kita semua untuk menjadikan momen ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan komitmen masa depan. Jaga persatuan, rawat toleransi, dan wujudkan Islam yang berkemajuan, yang mengajak pada ilmu, pekerjaan mulia, serta keadilan bagi seluruh anak Papua. Mari kita buktikan bahwa warisan leluhur adalah kekuatan kita membangun tanah air yang makmur dan beradab,” ujar Mulyadi.

Kaderisasi Jadi Kunci

Arah tersebut mulai diterjemahkan melalui penguatan kaderisasi. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Fakfak menyelenggarakan Baitul Arqam pada 24–26 Juli 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader sekaligus mempererat persaudaraan di lingkungan Muhammadiyah.

Lebih jauh, perkaderan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan dakwah membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menerjemahkan nilai Islam sesuai tantangan masyarakat Papua.

Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bahkan menerjunkan tim instruktur untuk memastikan kualitas pelaksanaan.

Tim tersebut terdiri dari Dian Indriyani, Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB), sebagai Master of Training (MoT); Irmawan Alfi Hikayat sebagai Imam of Training (IoT); serta M Irfan Islami sebagai Evaluator of Training (EoT).

Baitul Arqam yang untuk pertama kalinya digelar PDM Fakfak menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana peringatan sejarah diterjemahkan menjadi agenda pembinaan umat.

Dengan demikian, peringatan 666 tahun tidak hanya menghasilkan narasi tentang masa lalu, tetapi juga melahirkan investasi sosial berupa kader yang diharapkan mampu melanjutkan dakwah dan pelayanan umat di Papua.

Pendidikan Bangun Peradaban

Selain kaderisasi, pendidikan menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan dakwah Islam di Fakfak.

Ketua PDM Kabupaten Fakfak, Karim Abdul Rohman, mengatakan Muhammadiyah saat ini mengelola tujuh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Tujuh lembaga tersebut terdiri atas tiga unit TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), MI Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah Tahfidz, MTs Muhammadiyah Seberang, serta MA Muhammadiyah Cendekia Onin Fakfak.

Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan Islam di Papua tidak hanya dilakukan melalui ceramah dan kegiatan keagamaan.

Pendidikan menjadi sarana membangun generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, sekaligus kemampuan berkontribusi bagi masyarakat.

Di titik ini, warisan Islam yang telah berusia 666 tahun menemukan bentuk baru. Jika generasi terdahulu meninggalkan nilai melalui hubungan sosial, perdagangan, adat, dan kehidupan bermasyarakat, generasi sekarang dituntut meneruskannya melalui pendidikan dan penguatan kapasitas manusia.

Menatap Masa Depan

Peringatan 666 tahun masuknya Islam ke Papua akhirnya memiliki makna yang lebih besar ketika ditempatkan sebagai agenda membangun masa depan.

Bagi Muhammadiyah, penguatan kader dan pendidikan di Fakfak merupakan bagian dari ikhtiar merawat Islam agar tetap hadir sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat Papua.

Pendekatan tersebut juga menempatkan toleransi dan persatuan sebagai modal penting dalam kehidupan sosial di wilayah yang memiliki keragaman budaya dan keyakinan.

Baitul Arqam PDM Fakfak pun menjadi simbol dari arah baru tersebut. Peringatan sejarah tidak hanya dirayakan dengan mengenang para pendahulu, tetapi diwujudkan melalui investasi pada manusia dan institusi.

Pesan terpenting dari 666 tahun perjalanan Islam di Papua bukan semata tentang panjangnya usia sejarah.

Yang jauh lebih menentukan adalah apakah warisan tersebut mampu diterjemahkan menjadi pendidikan yang kuat, kader yang tangguh, ekonomi yang berkeadilan, kehidupan sosial yang harmonis, serta dakwah yang mampu menjawab kebutuhan generasi Papua.

Di situlah peringatan 666 tahun Islam di Papua memperoleh relevansinya, di mana sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan modal membangun masa depan.

Islam Papua

Latest Articles